Blog Details

CIRAD–PSLB INSTIPER Terapkan Analisis Masa Depan untuk Merumuskan Arah Pengembangan Kakao Sulawesi Tengah

Palu, 24 Juli 2026 – Program INDOKAKAO, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis melalui dukungan CIRAD (Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement), kembali memperkuat upaya pembangunan kakao berkelanjutan di Indonesia. Kali ini, Program INDOKAKAO menyelenggarakan Lokakarya Participatory Prospective Analysis (PPA) di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 21–24 Juli 2026, sebagai langkah strategis untuk merumuskan arah masa depan pengembangan kakao di Provinsi Sulawesi Tengah.

Kegiatan yang berlangsung di Swiss-Belhotel Silae Palu ini mempertemukan para pemangku kepentingan utama pengembangan kakao, antara lain Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Kehutanan beserta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), perwakilan kelompok tani dan kelompok tani hutan, pelaku usaha kakao dan UMKM, lembaga keuangan seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Permodalan Nasional Madani (PNM), organisasi masyarakat sipil, serta kalangan akademisi.

Lokakarya menggunakan pendekatan Participatory Prospective Analysis (PPA), sebuah metode foresight partisipatif yang dikembangkan CIRAD untuk membantu para pemangku kepentingan memahami dinamika perubahan dan menyusun strategi adaptif menghadapi ketidakpastian di masa depan. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menganalisis kondisi kakao saat ini, tetapi juga bersama-sama membangun berbagai kemungkinan masa depan yang dapat terjadi hingga tahun 2050.

Diskusi diawali dengan penyegaran pemahaman mengenai sistem lanskap kakao dan rantai nilai kakao, kemudian dilanjutkan dengan identifikasi faktor-faktor strategis yang memengaruhi masa depan sektor kakao dari berbagai dimensi, meliputi aspek sosial, ekonomi, teknologi, lingkungan, serta tata kelola dan kebijakan. Selanjutnya peserta bersama-sama mengidentifikasi kondisi Business as Usual (BAU) apabila tidak terjadi perubahan kebijakan maupun inovasi, menggambarkan kondisi masa depan yang diharapkan, mengantisipasi skenario yang tidak diinginkan, serta mengeksplorasi berbagai kemungkinan kejutan (future surprises) yang berpotensi memengaruhi sistem kakao.

Berdasarkan analisis tersebut, forum multipihak menyusun sejumlah skenario masa depan pengembangan kakao Sulawesi Tengah, yang menghubungkan kondisi saat ini (2026) dengan berbagai alternatif kondisi pada tahun 2050. Skenario-skenario tersebut akan menjadi dasar dalam merumuskan strategi adaptif serta memberikan masukan penting bagi penyusunan Roadmap Pengembangan Kakao Sulawesi Tengah yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli dari CIRAD dan difasilitasi oleh lima fasilitator profesional dari Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER Yogyakarta dan Universitas Tadulako (UNTAD). Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan daerah dalam menerapkan pendekatan foresight sebagai dasar penyusunan kebijakan dan investasi pembangunan kakao di masa depan.

Melalui penerapan Participatory Prospective Analysis, Program INDOKAKAO menegaskan bahwa pembangunan kakao tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan ketahanan sistem lanskap, daya saing rantai nilai, serta kemampuan para pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim, dinamika pasar, perkembangan teknologi, dan tantangan global lainnya. Pendekatan ini diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya sistem kakao Sulawesi Tengah yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani di masa depan.