Membangun Masa Depan Kakao Indonesia Melalui Kajian Masa Depan Partisipatif Program INDOKAKAO Selenggarakan Pelatihan Participatory Prospective Analysis (PPA) untuk Mendukung Penyusunan Roadmap Kakao Berkelanjutan 2035
Yogyakarta, 13 Juli 2026 – Menjawab tantangan yang semakin kompleks dalam pengembangan sektor kakao nasional, Program INDOKAKAO menginisiasi pendekatan baru dalam perencanaan masa depan kakao berkelanjutan melalui Pelatihan Participatory Prospective Analysis (PPA). Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari di SEAT INSTIPER Yogyakarta ini mempertemukan para peneliti, akademisi, praktisi pembangunan, serta perwakilan pemerintah untuk memperkuat kapasitas nasional dalam kajian masa depan (foresight) dan perencanaan strategis kolaboratif.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program INDOKAKAO yang didanai oleh Pemerintah Prancis dan dilaksanakan bersama oleh CIRAD (Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement) dan Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER. Pelatihan di SEAT INSTIPER menjadi tonggak penting dalam mempersiapkan pelaksanaan Lokakarya Participatory Prospective Analysis (PPA) Multi-Pemangku Kepentingan yang akan diselenggarakan di Provinsi Sulawesi Tengah pada 13–25 Juli 2026, salah satu sentra produksi kakao terpenting di Indonesia.
Sektor kakao Indonesia saat ini memasuki periode transformasi yang sangat dinamis. Perubahan permintaan pasar global, meningkatnya standar keberlanjutan, dampak perubahan iklim, perkembangan teknologi, perubahan preferensi konsumen, serta dinamika regulasi telah mengubah cara kakao diproduksi, diolah, dan dipasarkan. Di tengah perubahan tersebut, Sulawesi Tengah tetap memegang peranan strategis sebagai pusat produksi kakao nasional, sementara Daerah Istimewa Yogyakarta berkembang sebagai pusat inovasi pengembangan kakao berbasis agroforestri, industri cokelat spesialti (specialty chocolate), pengolahan hasil, serta usaha-usaha bernilai tambah.
Menyadari besarnya tantangan tersebut, pelatihan ini mengajak peserta untuk melampaui pendekatan perencanaan konvensional yang hanya bertumpu pada pengalaman masa lalu. Sebaliknya, peserta diperkenalkan pada pendekatan berpikir sistem (systems thinking) dan kajian masa depan (futures thinking) yang memungkinkan para pemangku kepentingan mengeksplorasi berbagai kemungkinan masa depan, mengidentifikasi ketidakpastian kritis, serta menyusun strategi adaptif bagi pengembangan kakao berkelanjutan dalam jangka panjang.
Menurut penyelenggara, masa depan kakao tidak cukup ditentukan oleh peningkatan produktivitas semata. Keberhasilan pembangunan kakao berkelanjutan sangat bergantung pada kuatnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi petani, koperasi, lembaga keuangan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil. Oleh karena itu, membangun pemahaman bersama di antara seluruh aktor tersebut merupakan fondasi penting bagi terciptanya sektor kakao Indonesia yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing.
Selama pelatihan, peserta mempelajari prinsip dan metodologi Participatory Prospective Analysis (PPA), yaitu pendekatan kajian masa depan partisipatif yang dikembangkan oleh CIRAD dan telah digunakan di berbagai negara untuk memfasilitasi eksplorasi bersama mengenai berbagai alternatif masa depan. Berbagai metode diterapkan secara interaktif, mulai dari analisis sistem, analisis struktural, pemetaan pemangku kepentingan, penyusunan skenario, hingga penggunaan perangkat foresight lainnya seperti Backcasting, Future Triangle, Three Horizons, dan Futures Wheel.
Pelatihan ini juga menjadi tahap persiapan menuju pelaksanaan PPA di Sulawesi Tengah. Para peserta bersama-sama memvalidasi hasil pemetaan pemangku kepentingan, mengidentifikasi faktor-faktor penggerak perubahan (drivers of change) yang memengaruhi sistem kakao, menganalisis hubungan antarvariabel strategis, serta merumuskan berbagai alternatif skenario masa depan yang selanjutnya akan diperdalam melalui dialog multipihak di Kota Palu.
Salah satu luaran penting dari proses ini adalah terbangunnya pemahaman bersama mengenai peluang dan risiko yang akan membentuk masa depan sektor kakao Indonesia dalam satu dekade mendatang. Alih-alih menghasilkan satu prediksi tunggal, pendekatan ini mendorong para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai skenario yang mungkin terjadi serta mengidentifikasi strategi-strategi yang tetap relevan di bawah berbagai kondisi masa depan.
Selain memperkuat kapasitas teknis, kegiatan ini juga bertujuan membangun jaringan fasilitator PPA Indonesia yang mampu menerapkan metode kajian masa depan secara mandiri dalam berbagai program pembangunan lanskap dan pengembangan komoditas strategis. Upaya ini merupakan investasi penting dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, tata kelola kolaboratif, serta inovasi pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Pada akhirnya, rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam penyusunan Roadmap Kakao Berkelanjutan 2035 bagi Provinsi Sulawesi Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dokumen tersebut diharapkan menjadi acuan strategis bagi pemerintah, mitra pembangunan, organisasi petani, sektor swasta, serta investor dalam membangun sektor kakao yang berdaya saing tinggi, berkelanjutan secara lingkungan, inklusif secara sosial, dan tangguh menghadapi berbagai ketidakpastian di masa depan.
Melalui inisiatif ini, Program INDOKAKAO menunjukkan bahwa membangun masa depan kakao Indonesia memerlukan lebih dari sekadar inovasi teknologi. Yang dibutuhkan adalah kecerdasan kolektif, cara berpikir sistemik, serta kemitraan yang kuat di antara seluruh pelaku dalam bentang alam kakao Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama membayangkan, mendiskusikan, dan merancang masa depan, Participatory Prospective Analysis (PPA) menjadi salah satu pendekatan strategis untuk membangun ekonomi kakao Indonesia yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
