“Pacitan Bersiap Jadi Pusat Pengembangan Lanskap Kakao”
Pacitan, 13 Agustus 2026 — Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pacitan untuk membahas pengembangan Pusat Pengembangan Lanskap Kakao bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan dan pelaku utama kakao di tingkat tapak.
Kunjungan tersebut mempertemukan tim PSLB INSTIPER dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan (DPKP), serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bumi Mina Jaya, Kecamatan Punung. PSLB INSTIPER menurunkan tim yang terdiri atas sembilan orang, sementara DPKP menghadirkan Kepala Dinas, Kepala Bidang Perkebunan, jajaran pejabat terkait, serta perwakilan kelompok tani.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan awal yang telah dilakukan di Kampus INSTIPER pada 30 Juli 2026. Diskusi kali ini diarahkan untuk memperdalam konsep sekaligus menjajaki peluang implementasi pusat pelayanan publik dan pusat orkestrasi pengembangan kakao sebagai bagian dari strategi pengembangan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Pacitan.
Dari Komoditas Menjadi Sistem Lanskap
Dalam pertemuan tersebut, PSLB INSTIPER memperkenalkan konstruksi model bisnis pengembangan sistem lanskap dan rantai nilai kakao. Pendekatan ini tidak hanya melihat kakao sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan petani, kelompok tani, penyedia input, pusat pengumpulan dan pengolahan, industri, pasar, serta berbagai institusi pendukung.
Konsep tersebut mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Pacitan. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan menilai pendekatan yang ditawarkan PSLB INSTIPER relevan dengan agenda pemerintah daerah, khususnya dalam mendorong intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi kakao.
Menurut PSLB INSTIPER, pengembangan kakao Pacitan membutuhkan suatu institusi yang mampu menghubungkan berbagai aktor tersebut secara lebih sistematis. Pusat Pengembangan Lanskap Kakao diharapkan tidak sekadar menjadi tempat pelayanan teknis, tetapi berkembang menjadi orkestrator ekosistem kakao, mulai dari peningkatan produktivitas di tingkat kebun hingga pengolahan, pemasaran, pengembangan produk, dan penguatan akses pasar.
Membangun Cocoa Development Center
Dalam konsep yang dibahas, ekosistem pengembangan kakao Pacitan dibangun secara bertahap mulai dari input supplier – petani – kelompok tani/koperasi – Mini Cocoa Hub – Cocoa Development Center – industri dan pasar ekspor. Struktur tersebut dirancang untuk memperpendek kesenjangan antara produksi di tingkat petani dengan kebutuhan pasar dan industri.
Cocoa Development Center diposisikan sebagai salah satu simpul penting dalam sistem tersebut. Fungsinya mencakup penguatan fermentasi, pengeringan, sorting, penyimpanan, pengendalian mutu, pengolahan, hingga dukungan pemasaran. Dalam model operasional yang dikembangkan, aliran bisnis kakao diarahkan dari produksi → fermentasi → pengeringan → sortasi → penyimpanan → pengolahan → pemasaran.
Dengan demikian, pusat tersebut diharapkan dapat menjadi tempat bertemunya kepentingan petani, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, koperasi, dan pasar.
Target 3.000 Petani dan 2.500 Hektare
PSLB INSTIPER juga memaparkan prospek pengembangan Pacitan Sustainable Cocoa Landscape Enterprise untuk periode 2027–2035. Visi yang dikembangkan adalah membangun lanskap kakao premium Pacitan dengan sasaran awal melibatkan sekitar 3.000 petani dan 2.500 hektare lahan kakao.
Dari sisi produktivitas, program diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dari sekitar 0,7 ton menjadi 1,5 ton per hektare, sekaligus meningkatkan proporsi biji kakao yang difermentasi hingga sekitar 70 persen.
Target tersebut sekaligus menjawab sejumlah persoalan yang saat ini dihadapi pengembangan kakao, antara lain tanaman yang sudah tua, produktivitas yang masih rendah, serta terbatasnya fasilitas pascapanen. Di sisi lain, Pacitan memiliki peluang untuk mengembangkan kakao premium, memasok industri cokelat domestik, serta mengembangkan integrasi kakao dengan agroforestri dan pariwisata.
Menggeser Orientasi dari Produksi ke Nilai Tambah
Salah satu aspek penting dalam konsep tersebut adalah penguatan nilai tambah di tingkat lokal. PSLB INSTIPER memandang bahwa peningkatan produksi harus berjalan bersamaan dengan peningkatan kemampuan petani dan kelembagaan lokal dalam menghasilkan produk berkualitas dan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Karena itu, model bisnis yang dibahas tidak hanya mengandalkan penjualan biji kakao. Pusat pengembangan juga dapat memperoleh pendapatan dari layanan fermentasi, pengeringan dan grading, penjualan produk cokelat, pembibitan, pelatihan, hingga agro-tourism.
Pendekatan tersebut membuka peluang bagi kakao untuk berkembang dari sekadar komoditas perkebunan menjadi landscape enterprise yang menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Investasi dan Kemitraan
Untuk mendukung pengembangan ekosistem tersebut, PSLB INSTIPER memaparkan beberapa skema investasi yang dapat dikembangkan secara bertahap, mulai dari Farmer Kit, Community Cocoa Hub, hingga Cocoa Development Center. Fokus investasi awal diarahkan pada fermentasi, pengeringan, pengendalian mutu, dan pengolahan.
Model kelembagaan yang ditawarkan menempatkan koperasi sebagai salah satu pengelola utama dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Dengan model ini, pusat pengembangan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jejaring kelembagaan dan bisnis kakao Pacitan.
Dalam perspektif PSLB INSTIPER, kemitraan menjadi kunci karena pengembangan kakao membutuhkan kombinasi antara pengetahuan, teknologi, kelembagaan, pembiayaan, pasar, dan kemampuan kewirausahaan.
Menuju Kakao Premium Pacitan
Pertemuan di Pacitan tersebut menjadi langkah awal untuk menerjemahkan konsep Pusat Pengembangan Lanskap Kakao ke dalam bentuk kelembagaan dan model bisnis yang dapat diimplementasikan bersama.
Roadmap yang dipaparkan PSLB INSTIPER menempatkan periode 2027–2028 sebagai tahap rehabilitasi kebun dan penguatan kelembagaan; 2029–2031 sebagai tahap pengembangan fermentasi, branding, dan pengolahan; sedangkan 2032–2035 diarahkan menuju pasar premium, ekspor, pengembangan wisata kakao, dan penguatan lanskap berkelanjutan.
Bagi Kabupaten Pacitan, gagasan tersebut membuka peluang untuk membangun model baru pengembangan komoditas: bukan sekadar meningkatkan produksi kakao, tetapi membangun ekosistem kakao yang mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat pendapatan petani, membuka lapangan kerja, sekaligus menjaga keberlanjutan lanskap.
Pertemuan antara PSLB INSTIPER, Pemerintah Kabupaten Pacitan, dan kelompok tani di Punung diharapkan menjadi titik awal bagi penyusunan langkah bersama menuju terwujudnya Pacitan Sustainable Cocoa Landscape Enterprise—sebuah model pengembangan kakao yang menghubungkan petani, pemerintah, ilmu pengetahuan, investasi, industri, dan pasar dalam satu ekosistem lanskap.
